Penulis:

Sajian Hingga Kompetisi Ketat

Palu, Seraya.id – Menurut ilmu Fisika, suara adalah getaran yang merambat sebagai gelombang akustik melalui media transmisi gas, cair dan padat.

Getaran ini ditangkap oleh telinga, selanjutnya diolah piranti otak untuk dicerna, dirasakan, dinikmati sekaligus dipahami.

Suara menjadi media komunikasi paling efektif sampai saat ini. Dan belum ada medium komunikasi lain yang dapat menandingi hebatnya fungsi suara.

Sesederhana apapun suara selalu dapat dicari arti dan maknanya.

  • Sajian Komunikasi Nabi Sulaiman Hingga Kompetisi Ketat AI

Masih melekat dalam memori cerita tentang bagaimana mukjizat Nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan “suara” binatang.

Dalam dunia fiksi, ada Tarzan yang mampu berkomunikasi dengan para sahabatnya di hutan belantara dengan bahasa suara paling sederhana.

Dalam ilmu dan teknologi terkini, suara digunakan untuk beragam keperluan, seperti: cek kesehatan melalui Ultrasonografi (USG) menghilangkan rasa sakit pada persendian dan mengukur kedalaman laut.

Hingga ketatnya kompetisi Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan, menyodorkan bagaimana antara mesin dengan manusia atau bahkan sebaliknya memproduksi komunikasi.

Sepertinya teknologi suara akan terus berkembang agar dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia.

  • Tapal 20 – 20.000 Hz & Karunia Bawah Sadar

Setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan menangkap suara pada koridor batasan tinggi gelombang suara tertentu.

Kemampuan manusia menangkap gelombang suara dalam hitungan frekuensi kisaran 20 Hz (hertz) sampai 20.000 Hz.

Baca Juga

Di bawah 20 Hz tidak akan mendengar apa-apa dan di atas 20.000 Hz akan memekakkan telinga.

Sejatinya manusia juga diberi kepekaan terhadap frekuensi lain. Getaran frekuensi ini sering dirasakan manusia tanpa disadari.

Ini yang disebut frekuensi alam bawah sadar. Frekuensi yang terjadi pada kisaran 8 – 14 Hz.

  • Frekuensi Setali Suara Hati Nurani

Jika manusia kukuh melatih kepekaan terhadap frekuensi ini maka akan mudah terhubung pada frekuensi hati nurani.

Itulah yang sering disebut suara hati nurani.

Maka bagaimana upaya manusia menangkap sekaligus menyamakan frekuensi suara hati nurani dengan perilaku sehari-hari, menjadi penting untuk menapaki kehidupan pribadi maupun kehidupan .

Agar keselarasan dalam hidup selalu terjaga.

Dan tak perlu menjadi Nabi Sulaiman ataupun berperan sebagai Tarzan untuk dapat menangkap suara hati nurani. (Penyunting: MFS Lanoto)