Penulis:

Seraya.id, Palu – Sekitar 12.500 jenis spesies ada di dunia ini. Hampir semua hidup secara berkelompok atau lebih dikenal serangga .

Hidup dalam sebuah koloni, sarang-sarangnya dikawal alami oleh sekelompok semut penjaga. Mereka juga terdiri dari semut pekerja, semut pejantan dan ratu semut. Semua bekerja sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

Betapa kata sosial itu benar-benar diterapkan dalam kehidupan sebuah koloni semut.

Saling berciuman saat berpapasan, bergotong-royong saat membawa makanan ke dalam sarangnya.

  • Jembatan Kala Sempit, 50 Kali Lebih Berat

Pun jika dibutuhkan saat sempit, siap menyediakan diri menjadi jembatan bagi semut lain yang akan melintasi sebuah alur yang dalam.

Mereka juga punya kekuatan membawa beban 50 kali lebih berat tubuhnya sendiri.

Salah satu makhluk yang secara nyata menunjukkan betapa maha hebatnya Sang Pencipta.

  • Klaim Sempurna

Lantas bagaimana dengan manusia yang mengeklaim diri sebagai ciptaan paling sempurna di muka bumi ini?

Sebagaimana halnya semut, manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup sendiri.

Sejarah mencatat telah lahir aturan-aturan sosial yang dibuat oleh manusia dengan tujuan menciptakan keteraturan bagi manusia itu sendiri.

Di tingkat lokal, ada kesepakatan bersama, peraturan, ketetapan, instruksi, undang-undang, dan lain sebagainya.

Di tingkat dunia pula ada General Agreement, Memorandum of Understanding (MOU), Protocol dan seterusnya

Baca Juga

Sejatinya semua aturan tersebut ingin bermuara pada keselarasan hubungan antar manusia. Perdamaian abadi.

  • Lacur Pelanggaran Pencipta Aturan

Tapi apa lacur.

Benarkah keselarasan tersebut tercapai seperti yang diharapkan? Jawabannya ya dan tidak.

Terbukti masih ada pelanggaran yang dilakukan oleh manusia sebagai pencipta aturan itu sendiri.

Masih ada konflik di sana sini karena berebut kekuasaan dan makanan.

Masih ada abuse of power yang nyata nampak di depan mata.

Masih ada “unseen crime” yang sengaja dibuat untuk mencundangi aturan yang dibuat.

Apakah para penjaga benar-benar menjaga aturan-aturan yang disepakati? Seperti semut-semut menata anggota koloninya? Entahlah.

  • Cermat ‘Papasan Kepala'

Jika sudah seperti itu, marilah sejenak kita sempatkan mencermati perilaku hidup sebuah koloni semut.

Apakah akan pernah kita lihat sekelompok semut berebut makanan dengan kelompok lain?

Seberapa sering akan kita temui semut yang tidak saling menempelkan kepalanya saat saling berpapasan?

Seberapa kesungguhan mereka Bersatu padu membawa makanan ke sarangnya.

  • Tawaran Sosial Seling Individual

Jika sudah selesai mengamati, maka ambil sebanyak-banyaknya dari kehidupan mereka.

Jika perlu jadikan mereka guru bagi kehidupan tanpa menunggu terbitnya “peraturan-peraturan” sosial.

Semut menawarkan pelajaran, arti pentingnya hidup sosial tanpa meninggalkan atau seling peran individual. (Penyunting: MFS Lanoto)