Penulis:

Palu, Seraya.id – Kepingan Batu Obsidian yang sifatnya mengkilat adalah awal dari sejarah , ditemukan di Anatolia (dihuni manusia Romawi dan Yunani kuno) yang kini menjadi Turki/Turkiye sekira 600 SM.

Kemudian berkembang menjadi cermin modern yang ditemukan oleh seorang ahli Kimia bernama Justus Freiherr von Liebig asal Jerman, tahun 1835 Masehi.

Komposisi material perak yang ditempelkan pada kaca bening berubah menjadi cermin, sebuah benda yang bisa menghasilkan pantulan benda yang ada di depannya. Selanjutnya, cermin saat ini berkembang dengan berbagai jenis dan manfaat.

  • Kamuflase Cerminan Cermin

Materi pembelajaran anak kelas 4 SD terkini, menampilkan pengetahuan tentang berbagai jenis cermin, yaitu: datar, cekung dan cembung.

Cermin datar mempunyai sifat memantulkan bayangan persis aslinya.

Cermin cekung mempunyai sifat memperbesar bayangan asli yang lebih detail. Sering digunakan pada alat mikroskop.

Cermin cembung berfungsi memperluas bayangan asli, karib dipakai untuk spion.

Teori visual bayangan pada cermin cekung atau cembung berlaku istilah bayangan asli dan bayangan semu (maya).

  • Fenomena De Javu alias Cermin Masa Lalu

Namun pada dasarnya semua cermin bermaksud menampilkan bayangan dari benda-benda yang ada di depannya.

Tujuannya? Jelas, guna mengetahui secara lebih baik melalui pembesaran, perluasan atau apa adanya.

Sebuah bentuk cermin lain yang secara maya menampilkan wajah kejadian masa lalu sering disebut de javu. Serapan dari bahasa Perancis yang secara harfiah berarti pernah dilihat.

Dalam dunia Psikologi, diartikan sebagai sebuah fenomena yang dialami seseorang yang merasakan sensasi kuat, bahwa sebuah peristiwa atau kejadian yang dialami saat ini pernah terjadi sebelumnya.

Hampir semua orang pernah mengalami kondisi seperti ini. Kondisi berada dalam cermin masa lalu.

  • Telisik Muhasabah, Gapai Insan Kamil (Relung Hati)

Dalam perspktif psikologi religius yang lebih dalam, manusia diminta untuk menyediakan cermin maya untuk diri sendiri setiap saat, setidak-tidaknya sesekali.

Istilah dalam agama Islam dikenal Muhasabah, atau introspeksi atau mawas diri.

Cermin yang satu ini rasanya tak perlu diragukan manfaatnya. Karena akan mampu memberikan efek pada kesadaran kuat dalam melihat perilaku diri selama ini dengan lebih jelas.

Tujuan akhirnya juga jelas yaitu perbaikan perilaku yang belum sesuai dengan kaidah-kaidah agama atau kemanusiaan menjadi manusia dengan perilaku insan kamil. Manusia seutuhnya.

Maka, sediakan cermin di setiap sudut rumah, tapi jangan lupa sediakan juga cermin di setiap sudut relung hati. (penyunting: MFS Lanoto)