Seraya.id, Bone Bolango – Kasus meninggalnya seorang IAIN Sultan Amai Gorontalo berinisial HSM (17) saat mengikuti program di Desa Lompotoo, Kecamatan Suwawa Tengah, Kabupaten Bone Bolango (Bonebol), Gorontalo pada Ahad (1/10/2023) masih dalam tahap pemeriksaan Oleh Sat Reskrim Polres Bonebol.

Ditemui wartawan di ruang pribadinya pada Selasa (10/10/2023), Kapolres Bonebol AKBP Muhammad Alli menuturkan, pihaknya sejauh ini telah memeriksa 13 orang saksi di antaranya 1 saksi pelapor sebagai kakak kandung korban, 3 saksi yang mengikuti pengkaderan, dan 10 orang selaku panitia.

“Untuk saat ini masih kita lakukan pemeriksaan dan kita melihat perkembangan lebih lanjut, akan sejauh mana kasus ini berjalan, nanti kami akan sampaikan,” tuturnya.

Kapolres mengatakan, pemeriksaan yang dilakukan tetap dikembangkan dan tidak menutup kemungkinan juga mengundang pihak kampus, termasuk pihak rumah sakit yang menangani korban.

“Untuk semua orang yang terkait dengan kejadian ini akan kita periksa, dan kemungkinan besar sejumlah saksi akan bertambah,” ucapnya.

Dilanjutkan Kasat Reskrim Polres Bonebol AKP Muhammad Arianto, berucap, hasil pemeriksaan terdapat beberapa fakta yaitu tindakan fisik namun tak membahayakan.

“Namun dari hasil penyelidikan juga kami dapati bahwa memang tidak ada pelaporan dari pihak kampus atau panitia kepada Polres maupun ke Polsek dalam mengadakan kegiatan tersebut, sehingga nantinya kasus ini akan berkembang,” urainya.

“Kalau memang si korban ini meninggalnya karena sakit atau ada penyakit bawaan nanti kita lihat apakah ada unsur kelalaian di situ,” imbuhnya.

Arianto bilang, kejadian itu diduga ada unsur ditutupi oleh pihak panitia. Hal itu dibuktikan dengan foto yang ditemukan Polisi di rumah duka di Boliohuto, Kabupaten Gorontalo. Dalam foto itu terlihat ada bercak darah di bibir dan beberapa keterangan juga ada tindakan menampar pakai sendal.

“Tadi fakta baru ada salah satu saksi menyatakan ada tindakan menendang bagian dada (korban), karena itu titik fatal,” ujarnya.

“Harapan kami dengan insiden ini tidak akan terjadi lagi hal-hal serupa, karena sudah tidak zaman apalagi mereka mahasiswa bukan persiapan militer.” tutur Arianto.

Kasus ini pun masih didalami pihak dan mereka bersiap memberikan informasi terbaru perkembangan kejadian tersebut. (jr)