Seraya.id, Sementara banyak perusahaan toko buku kancah nasional hingga internasional menyatakan tutup selamanya, namun (TB) kukuh menahan pondasi bisnisnya dari gempuran ide digitalisasi variatif bacaan, sepaket keadaan zaman sekarang.

28 tahun sejak kehadiran Ramedia sebagai TB lokal Kota Palu, Sulteng, Rumada selaku pemilik, nampak begitu tabah menciptakan roda perputaran usaha rintisan bersama suaminya, Berlin.

Ketika Seraya.id mendatangi toko yang setia berpijak di Jalan Hasanuddin, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur itu pada Senin petang (4/9/23), Rumada di usianya ke-63 tahun sedang duduk diam tanpa ditemani Berlin di tengah kasir, memantau jalannya hubungan transaksi antara pegawai dan pembeli.

“Sebenarnya suami saya yang biasa ini, memberi penjelasan kalau tentang usaha ini. Tapi karena beliau ada di luar kota, ringkasnya mungkin saya bisa jelaskan. Banyak kisah pahitnya saya membangun usaha ini bersama suami,” tanggap Mada sapaan karibnya menyambut.

Mada langsung mengambil patok perbincangan atas keadaan TB Ramedia sejak lima tahun lalu, tepatnya pada peristiwa bencana alam dahsyat 28 September 2018 disusul pagebluk virus corona tiga tahun kemudian.

Hunjaman dua fenomena itu dirasakan betul oleh Mada dan Berlin. Mulai dari drastisnya penurunan omzet hingga lebih 80%, berujung PHK massal pegawainya hingga setengah dari jumlah 60 orang.

Belum lagi saat Mada patuh membayar pajak tahunan, namun merasa begitu dilema karena pundi rupiah TB Ramedia terperosok jauh dari tagihan.

“Penjualan buku-buku ini mulai dari gempa itu dengan Covid justru menyakitkan (dampaknya). Sepi ini kepahitannya. Lihat sendiri ini tidak ada pengunjung,” arahnya di lantai 3 kawasan buku dan peta.

Sementara suasana kontras benar di lantai tengah atau 2 yang juga kawasan buku, terasa lebih melegakan karena masih disambangi beberapa pengunjung. Entah sekadar melihat, bertanya atau pun membeli di antara ribuan judul dan jenis.

Di lantai 2 yang tampak sangat luas itu, selama penopang penjualan buku lebih ke kitab suci Al-Qur'an dan buku LKS (Lembar Kerja Siswa) sekolah atau buku perkuliahan.

Mungkin tepat Mada menyemat dua jenis buku itu sebagai penopang, sebab adanya kewajiban dari pendidik kepada terdidik memilikinya.

Sementara komik, yang pernah jadi salah satu magnet Ramedia menarik pembaca sekira masa tahun 2000-an, kini nyata banyak ditinggalkan pembacanya.

Rak-rak komik di tengah lantai 2 itu nampak padat tersusun. Sejak serial Detektif Conan, One Piece, Doraemon serta masih banyak lagi, diakui Mada hampir seluruhnya tidak laku.

“Sudah kurang sekali bahkan tidak ada (pembeli). Paling yang (seri/edisi) terbaru saja yang dicari pembaca, itu pun pembaca yang betul-betul masih suka sekali komik,” imbuh Nita, salah satu pegawai saat diminta Mada menjelaskan suasana pustaka itu.

“Mungkin karena (pengaruh adanya aplikasi digital) Wattpad sekarang dan sejenisnya itu,” sambung wanita sejak 2019 sebagai pegawai Ramedia.

Bicara nasib buku novel fiksi dan sejenisnya, sama terjadi dengan komik.

Bahkan Nita hingga Mada pun gagap menyebut minimnya taksiran pembelian, saking magnet dari karya seni sastra sumber kecerdasan itu tidak semelekat era dulu.

Kemudian sokongan keuntungan lain Ramedia tak hanya bertumpu di Al-Qur'an atau LKS.

Tetapi justru yang paling laris sekaligus jadi magnet khusus adalah penjualan ATK (Alat Tulis Kantor).

ATK, boleh jadi sebutannya sebagai bunga-bunga penglaris TB Ramedia melangsungkan upaya mulia Rumada.

Sebagai pensiunan Guru Mapel umum yang salah satunya Pendidikan Moral Pancasila di SDN Birobuli 1 puluhan tahun silam, Rumada bahkan masih berani mengambil risiko rugi bila menstok edisi terbaru ragam buku.

Sesederhana teguh mengutamakan penjualan buku, di antara kelengkapan ATK sebagai penglaris, terlebih persaingan bisnis medium digital yang kurang menarik perhatiannya lewat TB Ramedia.

Membentuk diri renta Rumada untuk terus menyirat orang Palu, sekitarnya atau lebih luas lagi jangkauannya.

Penulis: MFS Lanoto