Seraya.id Palu – UPTD Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Poi Panda di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah mulai bersikap tegas atas penertiban ratusan hewan ternak masuk mencari makan di dalam kawasan TPA Poi Panda per hari Senin, 11 Mei 2024.

Kepala UPTD Poi Panda Muhammad Saiful, saat ditemui Seraya.id di kantornya dalam kawasan TPA Poi Panda pada Selasa, 12 Mei 2024 mengungkapkan, dirinya telah menginstruksikan seluruh petugas TPA Poi Panda mencegah kembalinya gerombolan sapi dan kambing ternak mengerubungi sanitary landfill milik TPA.

“Pokoknya mulai Senin kemarin sampai seterusnya tidak boleh lagi ada hewan ternak jenis apapun yang masuk TPA Poi Panda. Saya tegaskan ini hanya demi kebaikan bersama,” ungkap Saiful.

Instruksi itu, Saiful bilang, dengan mengetatkan penjagaan oleh petugas di beberapa titik gerbang, termasuk merapatkan portal dan pagar-pagar yang berpotensi menjadi celah masuknya ternak.

Patut diketahui, mengacu perhitungan Pengelola TPA Poi Panda selama ini, berkisar 800 lebih ekor ternak saban hari masuk memakan sampah, didominasi sapi mulai usia peranakan hingga dewasa yang siap disembelih.

Namun menariknya pada Senin malam sekitar mulai pukul 9:30, Saiful mendapat laporan dari bawahannya bahwa sebanyak 4 unit armada pengangkut sampah berjenis truk membuang sampah di luar kawasan TPA.

Kejadian itu diungkapkan Saiful, berawal dari sekitar 20 pemilik ternak mendatangi TPA Poi Panda pada waktu tersebut untuk membuang sampah di belakang kantor lama DLH Palu, berjarak sekitar 50 meter dari gerbang TPA Poi Panda.

“Setelah saya menanyakan para petugas, ternyata kejadian ini atas permintaan warga pemilik ternak. Alasannya supaya sapi-sapi mereka ini dapat makan, sementara petugas kami sudah melarang hewan ternak masuk ke TPA,” bebernya.

Hal itu pun memantik kekecewaan Saiful, karena justru menimbulkan masalah lain yakni sampah tidak dibuang pada tempat semestinya.

“Saya paham alasan para sopir dan buruh sampah membuang di belakang bekas kantor DLH ini, supaya tidak ribut sama pemilik ternak, sehingga mereka menuruti permintaan peternak. Tapi kejadian ini kan justru bikin kerjaan lain bagi petugas kami,” keluhnya.

Peristiwa ini pun dibenarkan oleh Koordinator TPA Poi Panda bernama Ado serta sopir armada truk unit 13 Muliadi yang turut membuang sampah di belakang kantor tersebut.

Muliadi menuturkan, dirinya ketika sampai di jalur masuk TPA diminta oleh beberapa peternak untuk membuang hasil angkutannya di kantor DLH lama.

“Sebelumnya sudah ada armada yang duluan buang sampah di belakang kantor itu. Jadi saya ikuti saja, walaupun saya merasa janggal kenapa sampah tidak dibuang di dalam TPA. Pas saya tiba ternyata sudah ada sampah yang dibuang di titik itu,” jelas Muliadi.

Sementara Ado menyebut dirinya tidak berada di tempat ketika awal kejadian. Ketika mendatangi beberapa pemilik ternak yang berada di jalur masuk TPA, Ado bermediasi dengan mereka agar berikutnya mengarahkan ternaknya di lahan kosong tepat di sebelah utara TPA Poi Panda.

“Sudah kami berikan berbagai solusi sebelum pelarangan masuk ternak ini, salah satu yang paling memungkinkan adalah sudah ada jalur dibuat untuk mengarahkan ternak ke lahan mati [kosong] milik warga, dan lahan ini diizinkan pemiliknya untuk dimasuki ternak,” urai Ado.

Sembari diperlihatkan Ado, lahan itu disebut layak menjadi area pakan ternak karena rindang ditumbuhi rumput. “Selain rumput, di lahan sana itu banyak jenis tumbuhan yang disukai ternak dan tentu sehat dimakan dibanding sampah,” imbuhnya.

Dilanjutkan Saiful, dia telah berkoordinasi kepada Sekda Kota Palu Irmayanti Pettalolo hingga Wali Kota Palu Hadianto Rasyid, guna mencari solusi terbaik bagi pengelolaan TPA Poi Panda dengan masyarakat pemilik ternak.

“Sudah saya kasih usulan, bahwa pemilik ternak sediakan lahan untuk ternaknya mencari makan, dan bahkan sudah kami arahkan di wilayah seberang TPA itu ada lahan yang jauh lebih layak dijadikan pakan ternak,” ujar Saiful.

“Bapak Wali Kota pun mengindahkan usulan saya atas masalah ini. Intinya siap memfasilitasi lahan milik peternak untuk pengelolaan pakan dan lainnya, termasuk bahkan saya sudah mengusulkan untuk sebagian lahan bekas kantor DLH Palu itu diubah jadi pusat peternakan di Palu, ini diterima Bapak Wali Kota,” tandas Saiful.

Pihaknya pun menegaskan terus memakai cara baik dan menghindari konflik sosial atas polemik ratusan di TPA Poi Panda Kawatuna. (sf)